Dahulu, pernah seorang pemuda bertanya tentang siapa kepatuhannya akan dia berikan kepada kepada seorang yang mulia. Orang tersebut menjawab "ibumu" di tanyakan kembali kepadanya siapa selanjutnya, masih sama jawabnya "ibumu" sampai 3 kali.
Sadar atau tidak, setiap kita yang bernafas di kehidupan ini(manusia khususnya) pernah bersatu dan menyatu dengan Ibu. Baik secara jasad maupun nyawa. Kemudian berlanjut pada saat dimana kelahiran yang menguras tenaga hingga pada titik diantara kematian dan kehidupan. Belum selesai itu berlanjut dengan penyusuan beberapa bulan. Hal yang luar sangat biasa yang terjadi pada setiap manusia bersama-sama Sang IBU. Hal seperti ini seharusnya menjadikan kita malu untuk menatap Beliau dengan tajam. Kata-kata yang menusuk-nusuk, maupun prilaku dan sikap yang ketus. Jangan sampai hal itu terjadi dan terulang. Berikan tatapan sejuk dengan senyum yang menghias sudut-sudut bibir kita.
Ingat, apapun yang kita lakukan belum dapat mengganti waktu, tenaga dan darah yang beliau berikan dan curahkan kepada kita. Belum lagi kasih sayang yang tak kan pernah terbayarkan. So dengan berbuat baik dalam segala hal saat kita bersama beliau, saat kita jauh dengan beliau adalah sedikit cara yang dapat memberikan senyuman indahnya kepada kita. Melalui senyuman itu seolah-olah Beliau ingin memberitahukan "Nak, restuku da padamu".
Restu beliau adalah seperti pedang saat kita dalam peperangan, pena saat kita menulis, air saat kita kehausan, pupuk bagi tanaman dan ribuan kiasan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Ibu, Hikss.. I Miss U..
Ku masih merasakan belaian tanganmu di rambutku
ku masih mendengar suaramu saat memanggilku
ohh... begitu indah dan lembut
Ibu.. aku sayang kamu..

