Seorang ayah
Siang itu berita bahagia menyelimuti sebuah keluarga di Bantul. Selembar surat panggilan untuk bekerja dengan upah yang menjanjikan yang telah ditunggu-tunggu telah datang. Sang ayah yang menerima surat itu tidak sabar untuk menunggu datangnya fajar pagi. Dalam angan-anganya sudah terbayang akan terwujudnya keinginan untuk membahagiakan segenap keluarga dalam hal materi. 2 anaknya, sang istri dan seorang mertua perempuan.
Hari yang telah ditunggu pun tiba, dini hari Jumat 26 Mei 06, dengan diiringi lambaian tangan dan tetes air mata keharuan, segenap keluarga saat melepas kepergian sang ayah ke Kalimantan utara, melalui Surabaya.
Sabtu, 27 Mei 06, pukul 5:56 gempa melanda jogja. Dengan kekuatan 5.9 SR, gempa menggoncangkan semua benda yang ada di atas permukaan bumi jogja. Dan tak ayang, banyak bangunan roboh, menimpa semua yang ada dibawahnya. Tak luput, keluarga yang ditinggalkan sang ayah. 2 anak belahan jiwa, sang istri si jantung hati, dan mertua yang disayangi serta dihormati, terkubur dalam reruntuhan. Sang ayah yang mendapatkan kabar, yang baru sampai pada hari yang sama, segera kembali ke jogja. Tanggal 28 Mei 06, perasaaan itu menghentakkan dadanya. Sedih, haru, pilu, saat tahu segenap keluarga tercinta meninggalkannya.
Ibu tersayang
Hidup sebuah keluarga damai dan bahagia. Malam itu 26 Mei 2006, suara canda tawa si kecil memecah kesunyian. Tertawa sambil berlari-lari bersembunyi dibelakang sang ibu ketika sang ayah ingin menangkapnya. Seolah si anak tidak tahu kalau ibunya sedang sakit. Si ibu yang berjalan dengan tertatih, dibantu dengan tongkat kayu, tersenyum sambil mengelus-elus rambut sang anak. Seolah lupa akan sakit yang dideritanya. Ayah yang takut kalau si ibu terjatuh, memeluk istrinya sambil memegangi si anak. "Nah ketangkap kau" kata ayah. Tawapun meledak, mengisi ruangan. Si Kakak yang baru duduk di kelas 2 pun ikut tertawa di meja belajarnya. Begitu riang suasana malam itu, hingga akhirnya mereka terlelap dalam mimpi.
Pagi hari 27 mei 2006, sebagaimana biasa sang ayah mengisi bak dengan air sumur untuk mandi buah hatinya. Karena sang istri sakit, maka dia yang memasak. "Nak mandi dulu" kata sang ayah dengan bahasa dan logat jawa. Hidangan telah siap, si anak pun telah memakai seragam coklatnya. Sang istri memanggil, untuk di papah ke kamar mandi. Ketika memapah, tiba-tiba datang suara bergemuruh diikuti dengan goncangan. Si ayah panik, ia mangangkat sang istri dan menempatkanya di dekat pohon pisang. Kemudian si ayah kembali untuk mengamankan kedua buah hatinya. Dengan sigap, si ayah membopong kedua anaknya di tangan kiri dan kanan. Goncangan makin lama makin kuat. Bangunan yang tak kuat akan goncangan pun roboh, udara dan debu bercampur. tepat ketika sang ayah didepan pintu sambil memegang kedua buah hatinya, dinding di dekat sang ibu berada roboh. Dengan disaksikan 3 pasang mata dinding campuran semen dan pasir, menimpa orang yang mereka sayangi. Ibu anak2, dan istri sang ayah. Goncangan besar berhenti tergantikan dengan goncangan2 kecil. sambil berurai air mata, sang ayah dan anak sulungnya. Berharap, berdoa, agar ibu mereka tidak apa2. Namun, apa dikata, tuhan berkehendak lain.
========
Saudaraku, Ini hanya sepenggal kisah. Masih ribuan kisah yang tak tertuliskan. Mereka kehilangan saudara, ibu, bapak, orang-orang yang mereka cintai, tempat tinggal, sahabat dan lain-lain. Luka fisik permanen mereka tanggung, trauma akan gempa masih menghantui, dan penderitaan mereka yang lain. Mari ringankan mereka dengan apa yang dapat kita sumbangkan. Paling tidak, hibur mereka, agar kembali tersenyum.


Comments:
Hello Chan from NEW ZEALAND. I was surfing the blog world when your blog popped up. I was going to pass on thru, without saying hello to you, but.......I saw your birth day 31 01 xx !!! Believe it or not, this krazy monkey birthday is the same. I think I am better looking than you though !!! (hehe)<\font>
Post a Comment
<< Home